Sabtu, 21 Juli 2012

KOPERASI MEWUJUDKAN KEBERSAMAAN DAN KESEJAHTERAAN


BAB I
PENDAHULUAN

Membangun sistem Perekonomian Pasar yang berkeadilan sosial tidaklah cukup dengan sepenuhnya menyerahkan kepada pasar. Namun juga sangatlah tidak bijak apabila menggantungkan upaya korektif terhadap ketidakberdayaan pasar menjawab masalah ketidakadilan pasar sepenuhnya kepada Pemerintah. Koperasi sebagai suatu gerakan dunia telah membuktikan diri dalam melawan ketidakadilan pasar karena hadirnya ketidaksempurnaan pasar. Bahkan cukup banyak contoh bukti keberhasilan koperasi dalam membangun posisi tawar bersama dalam berbagai konstelasi perundingan, baik dalam tingkatan bisnis mikro hingga tingkatan kesepakatan internasional. Oleh karena itu banyak Pemerintah di dunia yang menganggap adanya persamaan tujuan negara dan tujuan koperasi sehingga dapat bekerjasama.
Meskipun demikian di negeri kita sejarah pengenalan koperasi didorong oleh keyakinan para Bapak Bangsa untuk mengantar perekonomian Bangsa Indonesia menuju pada suatu kemakmuran dalam kebersamaan dengan semboyan "makmur dalam kebersamaan dan bersama dalam kemakmuran". Kondisi obyektif yang hidup dan pengetahuan masyarakat kita hingga tiga dasawarsa setelah kemerdekaan memang memaksa kita untuk memilih menggunakan cara itu. Persoalan pengembangan koperasi di Indonesia sering dicemooh seolah sedang menegakan benang basah. Pemerintah di negara-negara berkembang memainkan peran ganda dalam pengembangan koperasi dalam fungsi "regulatory" dan "development".
Koperasi sejak kelahiranya disadari sebagai suatu upaya untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama. Oleh karena itu dasar "self help and cooperation" atau "individualitet dan solidaritet" selalu disebut bersamaan sebagai dasar pendirian koperasi. Sejak akhir abad yang lalu gerakan koperasi dunia kembali memperbaharui tekadnya dengan menyatakan keharusan untuk kembali pada jati diri yang berupa nilai-nilai dan nilai etik serta prinsip-prinsip koperasi, sembari menyatakan diri sebagai badan usaha dengan pengelolaan demoktratis dan pengawasan bersama atas keanggotaan yang terbuka dan sukarela. Menghadapi milenium baru dan globalisasi kembali menegaskan pentingnya nilai etik yang harus dijunjung tinggi berupa: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada pihak lain (honesty, openness, social responsibility and caring for others) (ICA,1995). Runtuhnya rejim sosialis Blok-Timur dan kemajuan di bagian dunia lainnya seperti Afrika telah menjadikan gerakan koperasi dunia kini praktis sudah menjangkau semua negara di dunia, sehingga telah menyatu secara utuh. Dan kini keyakinan tentang jalan koperasi itu telah menemukan bentuk gerakan global.
Koperasi Indonesia memang tidak tumbuh secemerlang sejarah koperasi di Barat dan sebagian lain tidak berhasil ditumbuhkan dengan percepatan yang beriringan dengan kepentingan program pembangunan lainnya oleh Pemerintah. Krisis ekonomi telah meninggalkan pelajaran baru, bahwa ketika Pemerintah tidak berdaya lagi dan tidak memungkinkan untuk mengembangkan intervensi melalui program yang dilewatkan koperasi justru terkuak kekuatan swadaya koperasi.
Di bawah arus rasionalisasi subsidi dan independensi perbankan ternyata koperasi mampu menyumbang sepertiga pasar kredit mikro di tanah air yang sangat dibutuhkan masyarakat luas secara produktif dan kompetitif. Bahkan koperasi masih mampu menjangkau pelayanan kepada lebih dari 11 juta nasabah, jauh diatas kemampuan kepiawaian perbankan yang megah sekalipun. Namun demikian karakter koperasi Indonesia yang kecil-kecil dan tidak bersatu dalam suatu sistem koperasi menjadikannya tidak terlihat perannya yang begitu nyata.
Lingkungan keterbukaan dan desentralisasi memberi tantangan dan kesempatan baru membangun kekuatan swadaya koperasi yang ada menuju koperasi yang sehat dan kokoh bersatu. Menyambut pengeseran tatanan ekonomi dunia yang terbuka dan bersaing secara ketat, gerakan koperasi dunia telah menetapkan prinsip dasar untuk membangun tindakan bersama. Tindakan bersama tersebut terdiri dari tujuh garis perjuangan sebagai berikut :
  1. koperasi akan mampu berperan secara baik kepada masyarakat ketika koperasi secara benar berjalan sesuai jati dirinya sebagai suatu organisasi otonom, lembaga yang diawasi anggotanya dan bila mereka tetap berpegang pada nilai dan prinsip koperasi;
  2. Potensi koperasi dapat diwujudkan semaksimal mungkin hanya bila kekhususan koperasi dihormati dalam peraturan perundangan;
  3. Koperasi dapat mencapai tujuannya bila mereka diakui keberadaannya dan aktifitasnya;
  4. Koperasi dapat hidup seperti layaknya perusahaan lainnya bila terjadi "fair playing field";
  5. Pemerintah harus memberikan aturan main yang jelas, tetapi koperasi dapat dan harus mengatur dirinya sendiri di dalam lingkungan mereka (self-regulation);
  6. Koperasi adalah milik anggota dimana saham adalah modal dasar, sehingga mereka harus mengembangkan sumberdayanya dengan tidak mengancam identitas dan jatidirinya, dan;
  7. Bantuan pengembangan dapat berarti penting bagi pertumbuhan koperasi, namun akan lebih efektif bila dipandang sebagai kemitraan dengan menjunjung tinggi hakekat koperasi dan diselenggarakan dalam kerangka jaringan.

Kamis, 15 Desember 2011

AGENDA AKHIR SEMESTER I TP 2011/2012


AGENDA SEKOLAH AKHIR SEMESTER I
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

NO
TANGGAL
KEGIATAN
1
17 Desember 2011
Pembagian Raport semester I (kls I-VI)
Jam 08.00 WIB – 09.00 WIB
2
17 Desember 2011
Rapat (Guru, Komite Madrasah, Yayasan)
ü Evaluasi Kegiatan Semester I TP 2011/2012
ü Penyusunan EDM, RKM, RKT (2012/2013 – 2015/2016)
Jam 09.30 – selesai
3
19 – 31 Dersember 2011
Libur Semester I (siswa Belajar di rumah Masing-masing)
4
19 – 22 Desember 2011
Pendalaman Materi Tim LCC dan Tim Olimpiade MIPA
Jam 08.00 WIB – 11.00 WIB
5
26 – 29 Desember 2011
Pendalaman Materi Tim LCC dan Tim Olimpiade MIPA
Jam 08.00 WIB – 11.00 WIB
6
2 Januari 2012
Masuk pertama semester II
7
2 Januari 2012
Rapat Guru dan Karyawan (Persiapan KBM Semester II)
Jam 11.30 WIB - Selesai

Senin, 12 Desember 2011

PERBEDAAN TANAMAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL


Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya.
Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :
1.      Bentuk akar
- Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
- Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang
2.       Bentuk sumsum atau pola tulang daun
- Monokotil : Melengkung atau sejajar
- Dikotil : Menyirip atau menjari
3.      Kaliptrogen / tudung akar
- Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
- Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar  
4.      Jumlah keping biji atau kotiledon
- Monokotil : satu buah keping biji saja
- Dikotil : Ada dua buah keping biji  
5.      Kandungan akar dan batang
- Monokotil : Tidak terdapat kambium
- Dikotil : Ada cambium 
6.      Jumlah kelopak bunga
- Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
- Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
7.      Pelindung akar dan batang lembaga
- Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza
- Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
8.      Pertumbuhan akar dan batang
- Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
- Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
Contoh tumbuhan monokotil : - Kelapa, Jagung, dan lain sebagainya.
Contoh tumbuhan dikotil : - Kacang tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing, dan lain-lain

KRISIS NASIONALISME

Oleh : Khoerul Fatihin, S.Pd.I (Wali Kelas V B)
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Mempertahankan kedaulatan bangsa menurut penulis bukan hanya mempertahankan wilayah teritorial saja tapi juga mempertahankan kebudayaan.   
Harus diakui jiwa nasionalisme mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sangat rapuh. Makanya sebagai salah satu solusi agar bangsa Indonesia dapat keluar dari krisis multidimensional, tidak ada pilihan lain kecuali saat ini kita harus menanamkan jiwa nasionalime pada seluruh warga Negara.
Langkah efektif untuk membangun dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda adalah lewat dunia pendidikan. Pendidikan di era otonorni ini bertanggung jawab penuh atas kualitas nasionalisme siswa. Pendidikan dituntut mampu melahirkan output siswa yang memiliki jiwa nasinalisme kuat. Hal tersebut sangat urgen bagi masa depan bangsa dan negara sebab tanpa adanya semangat dan jiwa nasionalisme yang tertanam pada siswa dengan kuat, dipastikan krisis disintegrasi dan krisis multidimensional yang sekarang sedang berkecamuk serta meruntuhkan sendi-sendi berbangsa dan bernegara akan terulang lagi di masa yang akan datang.
Karena itu, mengorientasikan pendidikan sebagai wahana untuk menanamkan dan membangun jiwa nasionalisme siswa menjadi keniscayaan. Hal ini sangat relevan karena pendidikan selain merupakan wadah untuk menuntut ilmu pengetahuan, pendidikan juga merupakan tempat menggodok dan menyiapkan generasi bangsa dan calon pemimpin bangsa.
Langkah kongkret yang bisa dilakukan adalah menanamkan semangat kepada generasi muda untuk mencintai budaya bangsa. Menggunakan produk dalam negeri merupakan salah satu cara mengatasi krisis nasionalisme, apalagi di era globalisasi dimana perdagangan bebas (AFTA) sudah di berlakukan, jika kita tidak menggunakan produk-produk buatan negeri kita sendiri kita akan jadi pasar yang potensial bagi Negara-negara lain. Bangsa ini akan lebih terpuruk.
Bangsa yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa ini akan menjadi bangsa yang besar jika tetap dalam bingkai persatuan dan kesatuan.

BERBURU PAHALA DI SEKOLAH

Banyak hal sepele atau hal kecil yang sering terabaikan di sekolah. Padahal hal sepele itu justru merupakan "cermin" diri seorang muslim atau muslimah  sejati. Bahkan berpahala.  adalah sebagai salah satu bentuk ibadah. Suatu bentuk aktivitas sekecil apapun jika didasari keikhlasan dan dilakukan dengan cara yang benar adalah ibadah. Lebih-lebih di bulan Ramadhan seperti sekarang ini yang notabene bulan Pelipatgandaan Pahala. Nggak percaya? HR Ibnu Khuzaimah dalam hadist shahihnya mengatakan  “Barangsiapa yang ingin mendekatkan diri di bulan ini kepada Allah dengan suatu amalan sunnah, maka pahalanya bagaikan melakukan amalan fardhu di bulan lainnya; dan barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya adalah 70 amalan fardhu di bulan lainnya”. So,  kita sangat dianjurkan melakukan upgrading ibadah dan amal kebaikan. Kata Aa' Gym : "Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang. Menuntut ilmu
Membuang sampah pada tempatnya, membuang bungkus permen di tempatnya atau memasukkannya ke dalam saku untuk sementara waktu untuk dibuang ketempat semestinya, mematikan komputer jika sudah tidak dipakai, menyiram sampai bersih dan tidak berbau setelah BAB dan BAK, melepas sepatu dan merapikanya ketika mengikuti kegiatan di masjid,  adalah sederet hal sepele yang merupakan ibadah, mendatangkan pahala dari Allah dan akan meningkatkan goodwill lembaga(sekolah). Sepertinya, sense of belonging masih menjadi PR kita bersama.
Budayakan disiplin, disiplin waktu, disiplin berpenampilan, disiplin berbicara, disiplin administrasi, dan disiplin-disiplin yang lainnya masih perlu diupgrade lagi. Coba kita lihat rapor kedisiplinan kita. Berapa kali kita terlambat dalam sebulan? Berapa kali kita bolos  dalam sebulan? Mudah-mudahan jawabannya tidak pernah. Alhamdulillah. Marilah kita jujur dengan segenap kejernihan hati dan pandangan positif untuk introspeksi diri. Mengaplikasan Q.S Al asr (Demi Masa) dalam kehidupan keseharian kita.
Terkadang tidak sadar bahwa ucapan kita menganggu teman  yang yang sedang serius belajar. Kata bijak mengatakan : "Mulutmu harimau kamu". Dalam hal ini Nabi pun mengingatkan bahwa : "Selamatlah manusia jika dia mampu menjaga lisannya". Begitu urgennya lisan ini. Jangan sampai hati teman terluka karena lisan kita, omongan kita yang sengaja ataupun tidak sengaja. Mungkin juga dalam canda ria kita. Kepekaan, empati dan simpati dengan teman akan tumbuh dengan sendirinya jika kita latih. Karena dengan latihan itu akan membentuk good habit.
              Budaya senyum, salam, sapa, sopan dan santun (5S), semestinya menjadi perhatian utama dalam mewujudkan kenyamanan di lingkungan sekolah. Saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi. InsyaAllah hal ini akan berdampak kepada peningkatan produktifitas prestasi. Visi dan misi sekolah akan terealisasi dengan baik.
           Tulisan sederhana ini semoga bisa menjadi "cermin diri" untuk evaluasi dan introspeksi demi terealisasinya visi dan misi lembaga tercinta. Kejernihan hati, kebersihan fikiran, positive thinking, husnudzon, obyektif adalah kaca mata yang tepat untuk melihat diri kita sendiri. Semoga Allah Swt selalu memberikan yang terbaik kepada diri, keluarga dan lembaga kita tercinta. Amin
(repost dengan judul yang sama, sumber......)